Sunday, June 2, 2013

11:56 pm


"..Musuh terbesar kecerdasan adalah rasa takut.."

The Silence Slamet

Seperti kata seorang teman, tuliskan apa yang kamu lakukan dan lakukanlah apa yang kamu tulis. Sebenarnya ini adalah cerita beberapa tahun lalu yang saya tulis di dalam otak. Semoga saja detailnya masih terlintas jelas saat dituangkan. Here we are, cerita ini sekitar 5 tahun yang lalu, saat libur lebaran pada tahun 2008. Ketika perut masih belum oval, rambut agak sedikit gondrong-gondrong kribo dan isi kantong masih menjadi salah satu masalah yang sangat berarti (sekarang pun masih sih hahaha). Ada teman yang mengajak untuk naik-naik ke puncak gunung, sebut saja Mr. X dan Mr. Y. Dengan planning yang matang, rekan mendaki yang mumpuni dan peralatan yang kala itu saya masih pinjem sana sini, kamipun menerjang macetnya jalan raya karena bertepatan dengan orang-orang yang mudik lebaran.

Wusssss....ciiiittttt....ciiiiiittttt...wuuussssss
Bis melaju kencang saat jalanan sepi dan rem-rem berulang kali saat macet melanda jalan raya. Kami menuju Purwokerto dari terminal Cicaheum Bandung. Untuk antisipasi jalanan yang macet dan perut kosong, tangki bahan bakar di perut mesti diisi dulu. Dengan modal irit, warteg adalah tempat makan yang sesuai kantong. Selama perjalanan sebelum nagreg, masih ramai lancar, tapi saat melewati nagerg, antrian kendaraan mengular. Hal yang paling realistis adalah tidur sambil menunggu kemacetan usai. Saat terbangun, sudah sore dan kami sudah memasuki wilayah jawa tengah. Perkiraan awal, sebelum tengah malam, seharusnya sudah sampai di purwokerto. Daaan, saat baru sampai di daerah cilacap, bus yang kami tumpangi mogok. Setelah sekian lama diutak-atik oleh para awak bis, dan masih saja mogok, akhirnya diambil keputusan untuk memindahkan penumpang ke bus lain yang satu jurusan. Kurang lebih sekitar setengah jam menungu, akhirnya ada bus yang bisa kami naiki sampai Purwokerto. Saat perjalanan, bus ini terasa sangat berbeda dengan yang sebelumnya. kalau yang sebelumnya kami bisa tidur dengan cukup lelap, kalau bus yg ini, waaah...bikin tidur ga tenang. Ngebutnya gila-gilaan. Beruntung kami sampai dengan selamat sampai di Purwokerto meskipun jantung masih berdegup kencang.

Oke, saya belum menjelaskan gunungnya ya hehe. Berikut ini preview singkatnya. Gunung Slamet, salah satu gunung di tanah Indonesia yang memiliki ketinggian diatas 3000 meter diatas permukaan laut, tepatnya Merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan gunung kedua tertinggi di pulau Jawa setelah gunung Semeru. Gunung Slamet termasuk kategori gunung yang masih aktif. Kawahnya masih aktif mengeluarkan asap belerang. Untuk mencapai puncak gunung Slamet, dapat melalui beberapa jalur, dan yang populer yaitu Bambangan dan jalur Baturaden. Cuaca di gunung Slamet termasuk sangat cepat berubah, saat siang yang cerah bisa tiba-tiba menjadi hujan badai hanya dalam hitungan beberapa menit saja. Selain itu, jalur pendakian di gunung Slamet tergolong sulit untuk mendapatkan air sepanjang perjalanan. Para pendaki disarankan untuk membawa persdiaan air yang cukup dari bawah.

Nah, untuk pendakian yang kami lakukan adalah via jalur Bambangan. Jalur ini paling sering dilalui dibanding jalur lain karena lebih mudah. Selain itu karena kami juga tidak ingin pendakian yang terlalu ekstrem. Total waktu tempuh dari pos Bambangan - puncak - pos Bambangan adalah 3 hari 2 malam.

Gerbang masuk Gunung Slamet via Bambangan
Sebenarnya saya lupa berapa pos yang dilewati sebelum bisa sampai puncak. Namun ada beberapa spot yang punya cerita-cerita yang menarik.  Saat ngecamp di malam pertama, setelah pos I, pos Payung, semuanya normal-normal saja. Sebelumnya ada pesan sewaktu kami masih di bawah, bahwa jangan ngecamp di pos IV, pondok Samarantu. Maka dari itu, kita kebut perjalanan agar saat gelap datang, kami sudah melewati pondok Samarantu. Ada salah satu spot, seingat saya sebelum pondok Samarantu, ada semacam bau aneh, bergantian antara bau busuk dan wangi. Sebenarnya untuk hal-hal seperti ini, tidak usah terlalu diperhatikan, toh kita naik gunung baik-baik dan ingat selalu mengindahkan etika setempat. Tetaplah berpikiran positif selama perjalanan namun selalu waspada. Karena jalannya agak dikebut di lokasi tersebut, maka foto pun tak sempat saat itu.

Untuk malam kedua, kami ngecamp dekat sebuah pondok kecil sebelum pos V atau pos VI(tepatnya saya lupa). Tapi so far tempatnya lumayan oke, angin tidak terlalu menjadi masalah berarti malam itu karena tempatnya dikelilingi pepohonan. Seperti biasa, rutinitas masak malam, membuat api unggun kecil dan bercanda sebelum tidur untuk persiapan summit attack esok paginya.

Subuh tiba dan summit attack pun siap dimulai. Ingat berdoa dan ingat perlengkapan beserta logistik untuk summit attack. Entah kenapa, saat summit attack ini, gunung Slamet terasa sunyi sepi kalau dibanding gunung lain. Mungkin karena kondisi lelah selama perjalanan sih. Tapi memang terasa agak berbeda. Sepanjang jalur setelah Plawangan, kami menemukan beberapa memorial beberapa pendaki yang kehilangan nyawa disini. Semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisi Yang Esa. Kembali ke jalur setelah Plawangan, jalurnya berupa pasir dan batu-batu, batas vegetasi sudah berada di bawah kita. Sampai puncak kita akan merasakan jalur seperti ini. Dari sini kira-kira 60 menit langkah biasa, kita sudah bisa menjejakkan kaki di Puncak Gunung Slamet.

Puncak Slamet, sepi sunyi, angin berhembus pelan. Saat seperti ini, nikmati waktu yang berharga. Bersyukurlah masih bisa menjejakkan kaki di tempat seperti ini. Salam..

Api malam di base camp malam ke-2
Menjelang sunrise di Plawangan
Kawah di puncak gunung Slamet
Salah satu memorial pendaki
Puncak Slamet

Saturday, June 1, 2013

You're the moon and I'm the astronaut

Simple sketch
Mengingat cerita waktu kecil, cita-cita polos yang terlintas saat itu adalah menjadi seorang astronot. Ingin melihat apa yang ada jika kita sudah melewati batas awan. Cita-cita tetaplah cita-cita. Meskipun saat ini berada jauh dari trek yang diinginkan sejak kecil, at least sketsa ini bisa menjadi pengingat bahwa saat kecil saya punya imajinasi dan keinginan luar biasa :) 

Thursday, May 30, 2013

Cerita Singkat Pesona Papandayan

Mungkin saat pikiran sedang kacau, menulis adalah salah satu cara untuk menjadi alternatif membuatnya segar kembali. Oke, saat ini saya akan sedikit bercerita tentang Gunung Papandayan. Gunung ini terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung yang masih tergolong aktif ini memiliki ketinggian ~2622 mdpl. Karena letak yang strategis, masih relatif dekat dengan ibukota Jakarta, papandayan merupakan salah satu gunung yang diminati pendaki, selain karena alamnya juga masih bagus. Trek selama pendakian juga relatif mudah dan tidak terlalu panjang. Ini memungkinkan kita punya cukup waktu untuk menghabiskan weekend di gunung. Udah pada nyoba kan weekend di gunung? Supaya ga weekend di mall aja. FYI, weekend di gunung itu NIKMAT. Kenapa di bold? Ini intuk menunjukkan bahwa tingkat kenikmatan dan kepuasannya menyentuh sisi otak yang penat sehingga menstimulus otak seutuhnya untuk mengulangi lagi dan lagi menghabiskan waktu di gunung :)

Secara singkat, akan saya share itinerary dari perjalanan yang kami lakukan pada bulan April kemarin. Mungkin dapat dijadikan patokan jika teman-teman sekalian mau merencanakan pendakian ke Papandayan. Tapi sebelumnya saya berterima kasih untuk Om Monop atas ROP-nya ya hehe

Jumat , 12 April 2013
18.00 - 20.00  : Kuningan – Halte Busway BKN (cawang)
20.00 - 20.30  : Makan Malam
20.30 - 00.30  : Jakarta - Terminal Guntur Garut (via primajasa)
00.30 - 05.00  : ISHOMA di masjid Guntur (repacking, bagi beban logistic)
Sabtu , 13 April 2013
06.00 - 06.30  : Persiapan, Sarapan
06.30 - 07.30  : T Guntur - Perapatan Cisurupan ( Via Angkot Putih)
07.30 - 08.30  : Perapatan Cisurupan - Camp David (Via Colt / ojek)
08.30 - 09.00  : *ISHOMA + Perijinan
09.00 - 10.00  : Camp David - Lawang angin
10.00 - 11.00  : Lawang Angin - Pondok Selada
11.00 - 12.00  : *ISHOMA, Menikmati indahnya Padang Edelweis
12.00 - 15.00  : Pondok Selada - Tegal Alur (camp 1)
15.00 - 17.00  : Menikmati indahnya Padang Edelweis & mendirikan Camp
17.00 - …….  : Acara bebas
Minggu , 14 April 2013
05.00 - 07.00 : Summit attack (Tegal Alun - Puncak)
07.00 - 07.15 : Hunting Foto
07.15 - 08.00 : Puncak - Tegal Alun
08.00 - 09.00 : Sarapan + Packing
09.00 - 15.00 : Tegal Alur - Hutan Mati - Danau Hijau - Camp David
15.00 - 20.00 : Camp David - P. Cisurupan - Terminal Guntur - Jakarta
20.00 - ….     : OTW rumah masing-masing

Pada saat menuju Camp David dari Perapatan Cisurupan, sebaiknya naik mobil colt (bak terbuka yang biasanya buat colt sayur) karena jalannya termasuk ekstrem jika dilalui dengan motor (ojek) ditambah dengan carrier segede gentong. Jika naik colt, bisa lebih irit biaya karena 1 mobil bisa mengangkut sampai 10 orang. Saat sampai Camp David, kita mesti mengurus perijinan dulu di pos. Setelah itu, siapkan fisik, mental dan mata yang akan selalu memandang keindahan di sepanjang perjalanan. Secara umum, jalur pendakian di Gunung Papandayan relatif mudah. Jalur setapak juga terlihat jelas. Sepanjang jalur sampai sebelum Lawang Angin, kita seringkali bertemu dengan warga lokal yang lalu lalang dengan sepeda motor yang dimodifikasi untuk melewati jalanan berbatu. Pendapat saya saat pertama kali melihat mereka melewati jalur berbatu tersebut, WOW, GILAK!!

Pos Camp David
Trek berbatu

Di Lawang Angin, terdapat simpangan menuju ke Pengalengan Bandung. Biasanya jalan tersebut dilewati oleh para warga yang bekerja di kebun-kebun di Pengalengan Bandung, sementara rumahnya di Garut hehe jauh ya. Nah, jalur pendakian kita tentu saja bukan simpangan yang menuju Pengalengan, melainkan simpangan yang menuju Pondok Salada. Disini ada papan tanda jalur yang mengarahkan kita menuju Pondok Salada. Pondok Salada ini bukan pondok semacam rumah, tetapi hamparan tanah perkemahan dengan pepohonan di belakangnya dan padang edelweis di depannya. Sebagian pendaki biasanya mendirikan camp disini. Tim kami melanjutkan perjalanan dari Pondok Salada menuju Tanjakan Mamang melewati hutan mati. Suasananya terkesan sunyi senyap ketika melewati hutan mati karena vegetasi sepanjang jalur hanya berupa pepohonan tanpa daun dan sudah mati.

Menuju Lawang Angin
View dari Lawang Angin
Pondok Salada
Setelah suasana sunyi di hutan mati, kita akan sampai di Tanjakan Mamang --sebagian jalur yang cukup menguras tenaga selama perjalanan-- yang berupa tanjakan dengan kemiringan ~60°. Disinilah kekuatan dengkul diuji karena kadang-kadang dengkul bertemu dagu. Tapi jika sepanjang perjalanan sebelumnya dinikmati dengan santai tanpa beban, tanjakan Mamang akan dilalui dengan mudah. Sesampainya diatas setelah tanjakan yang cukup melelahkan, apalagi didukung oleh hujan yang mengguyur sepanjang tanjakan, kita akan bertemu hamparan padang edelweis luas nan indah. Tegal Alun, disinilah sebagian para pendaki mendirikan camp. Kamipun mendirikan camp disini, dekat sungai berair bersih dan dingin. Sebenarnya untuk pendakian di Papandayan, terdapat sumber air berlimpah di beberapa titik, terutama di Tegal Alun.

Tanjakan Mamang
Tadaa..!! Dome pun sudah berdiri tegak, logistik dan perlengkapan dirapikan dalam tenda dan siap untuk masak-memasak. Masak-memasak saat camping merupakan salah satu hal yang mengasikan lho. Kita bisa bebas mengekspresikan ide-ide masakan. Asalkan perut kenyang, rasa bisa jadi nomor 2 ya hahaha. Kebetulan saat kami sudah berada di dalam tenda dan sudah sore dan hujan turun, maka hal paling nikmat adalah hujan-hujanan eh, berada di dalam tenda dan bercanda ria sambil masak. Kami tidak sempat melihat langit sore di Tegal Alun karena gerimis masih turun hingga gelap datang.

Tegal Alun keesokan harinya
Salah satu momen menyenangkan berada di atas gunung adalah saat malam hari ketika berada di luar dan melihat ke atas, ke langit luas. Saat-saat seperti ini yang saya sebut sebagai me time. Merasa damai melihat lepas ke langit. Sesekali bintang jatuh seakan-akan menertawakan kami yang kadang mencari-cari dan berharap dia datang lagi dan memberikan kesempatan untuk mengucap permohonan. Celoteh bersama sahabat-sahabat yang mengiringi sepanjang jalan dan semoga keadaan ini tak pernah usai. Keadaan dimana sahabat merupakan harta yang sangat berharga, selain keluarga :)

Saat malam sudah makin larut, mata pun sudah tak kuat menahan rasa kantuk, kami persiapkan tempat yang nyaman dalam tenda dan sedikit berdiskusi tentang summit attack esok pagi. Dan... Zzz...
Pagi datang, persiapan summit sudah OK dan berangkaaat... Melewati Tegal Alun dan sungai kecil, kami lanjutkan perjalanan menuju puncak. Sepanjang perjalanan kita akan bertemu beberapa pohon tumbang yang menghalangi perjalanan. Jalur menuju puncak cukup mudah, namun ada sedikit tanjakan sebelum kita sampai Puncak Bayangan. Dari Tegal Alun menuju Puncak Bayangan kira-kira diperlukan waktu sekitar 45 menit. Sayangnya kami berhenti sampai Puncak Bayangan karena sudah agak siang. Tapi so far, viewnya jempolan deh. Ga bakal rugi sampe disini. Selanjutnya setelah ritual foto-foto yang tak pernah hilang, akhirnya kami pun turun menuju basecamp lagi. Sedikit masak-masak dengan logistik sisa dari kemaren, santap siang dan kami turun menuju Camp David dengan jalur berbeda dengan saat nanjak. Kali ini akan melewati hutan mati dan kami berencana melihat Danau Hijau. Mungkin banyak yang belum tahu, setelah kita menyeberang daerah belerang antara Camp David dan Lawang Angin, sebenarnya jika kita menyeberangi 3 sungai kecil dan daerah dimana asap belerang masih menyembur keatas, kita akan bertemu dengan danau berwarna hijau. Mungkin saat menuju tempat ini, kita mesti memperhatikan navigasi karena jika kabut turun sementara asap keluar terus-menerus, akan menjadi sangat sulit kembali ke titik asal. Jika hal itu terjadi, jarak pandang bisa jadi sangat pendek dan asap belerang dimana-mana bisa menjadi hal yang sangat berbahaya. Ingat salah satu hal terpenting saat melakukan perjalanan, SAFETY PROCEDURE jangan sampai diabaikan, meski bagaimanapun kondisi alamnya.

Asap belerang
Danau Hijau
Panorama View Tegal Alun dari puncak Bayangan

Sebagai penutup, jangan puas sudah mendaki gunung manapun. Tetaplah "lapar", karena itulah yang akan membangkitkan semangat untuk mencapai puncak-puncak berikutnya.

Take nothing but photos
Leave nothing but footprints
Kill nothing but times


Saturday, May 25, 2013

I'm back again

Halo semua,

Sekian lama, setelah hampir membeku selama hampir 4 tahun, akhirnya blog ini saya buka kembali. Hehe. Banyak sarang laba-laba, butiran debu berserakan dan serpihan sampah berserakan. So, be patient ya guys. It will take a moment to clean it :p

Back to the topic ya,
Oke kali ini suasana sudah berbeda. Kondisi kehidupan dan kesibukan juga sudah jauh berbeda. Yang sama adalah kemampuan begadang seperti masa kuliah dulu (yang ini jangan ditiru, tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental anda). Kondisi pekerjaan yang kadang-kadang mengharuskan untuk begadang (jaga lilin) hingga mentari sudah nampak terang menyilaukan mata. Dan seperti kebanyakan para pencari nafkah di ibukota ini, waktu libur adalah waktu yang sangat berharga untuk dilewatkan dengan hanya tidur-tiduran saja. Kembali ke alam adalah salah satu opsi yang paling menyenangkan. Udara yang lebih bersih, angin bertiup, terik matahari (baca: bukan panas polusi), dan teduhnya pohon kala siang hari. Wisata alam adalah pemuas dahaga yang memuaskan. Setelah back to work lagi, jadi lebih banyak senyum dan lebih mudah mengatur emosi. Percaya atau tidak.

Terakhir, sebelum kesibukan melanda dan beberapa kejadian penting, saya melakukan refreshing bersama para sahabat ke gunung dengan panorama indah yang lumayan dekat dengan hiruk pikuk Jakarta. Ya, Gunung Papandayan yang berlokasi di Garut, Jawa Barat. Sebenarnya pendakian ini merupakan pemanasan plan kami naik ke Semeru pada bulan berikutnya. Untuk cerita detailnya akan saya ceritakan nanti ya hehe

Tapi rejeki memang tidak dapat ditebak, musibah tidak dapat ditolak, karena sesuatu hal, tim saya ini berhasil menjalankan plan Papandayan dan plan Mahameru dan saya pun mentok sampai Papandayan. Kenapa? Karena ada sebuah kejadian yang menimpa saya tepat H-3 sebelum kami berangkat yang menyebabkan saya tidak mungkin ikut bersama mereka. Meskipun kecewa karena belum bisa menuntaskan cita-cita yang sudah terpendam sekian lama, namun rasa bangga saya tak terhingga ketika melihat untaian peristiwa lewat foto-foto yang menyatakan bahwa tim kami berhasil menggapai puncak para dewa, Puncak Mahameru dengan selamat. Congratz..!! 

Hi Ranukumbolo & Mahameru, I'll see you soon :)

dewa 19 - Mahameru

Tuesday, November 24, 2009

air minumku

Saat jaman serba praktis dan keberadaan air semakin langka di beberapa tempat,  mungkin sebagian orang agak bingung memilih air apakah yang mesti diminum jika kondisinya seperti berikut ini:
Pertama, air mineral bermerk dengan harga yang mahal.
Kedua, air isi ulang (yang katanya) dengan proses-proses tertentu dengan harga lebih terjangkau.
Ketiga, air (yang katanya) dari gunung dengan harga paling murah.

Manakah dari ketiga hal tersebut yang anda pilih??


fenomena wisata alam

Suatu kenikmatan jika kita bisa berada di alam. Udara bersih dan hawa yang sejuk memanjakan sejenak otak kita. Menjelajah berbagai sudut hingga menemukan tempat yang nyaman adalah hal yang asik. Dan karena itupun, wisata alam makin berkembang. Dari sebelumnya benar-benar murni belum terjamah, hingga akhirnya sebagian besar sudah menjadi objek wisata daerah.
Sebuah kontroversi apakah wisata alam mampu menjaga apakah lingkungan tersebut tetap murni ataukah semakin tercemar saja. Kian banyaknya pengunjung, seiring juga dengan banyaknya sampah baik yang organik maupun non-organik. Sekarang tergantung pengelolaan kawasan tersebut. Apakah itu merugikan lingkungan demi mendapatkan pendapatan atau menjaga lingkungan namun tidak mendapat penghasilan atau bisa menjaga lingkungan namun tetap menghasilkan??
Jawabannya, semua tergantung kita. Tergantung bagaimanakah upaya yang dilakukan agar lingkungan sekitarnya tidak tercemar oleh ulah manusia.






Foto diatas adalah lokasi wisata alam air terjun yang terletak di desa Sekumpul, Kabupaten Buleleng, Bali.